Selasa, 26 Oktober 2010

AngeL's Story part. 4

"Al, gimana undangannya?" tanya Diana sewaktu aku sedang mengerjakan tugasku dikelas.
"Diana,. udah nie." jawabku sambil menghentikan pekerjaanku dan menyodorkan kertas yang dari tadi ada di dalam laciku.
"coba kamu liat dulu, Na, kali aja ada yang salah." tukasku.
Diana lalu membaca isi surat undangan itu, dan saat itu juga Riski mendekati kami.
"apaan nieh?" tanyanya.
"undangan rapat kita, Ris." jawabku.
"udah nie Al, bener kok. kalo bisa langsung di copy aja. biar hari ini bisa beredar. gimana?" usul Diana.
"boleh juga, Na. biar selesai sekalian, lagian juga rapatnya besok lusa ini."
"ya udah, biar aku copy-in aja ya. kebetulan nie aku mau ambil copy-an di depan." tukas Riski.
"boleh deh." jawab Diana.
"ngebagiinnya gimana nie?"
"udah gampang.. seharin aja ama aku. aku tinggal yah." kata Riski, lalu dia beranjak keluar dari kelasku dan sekarang hanya tinggal aku dan Diana yang ada di dalam kelas itu, karena kebetulan semuanya pada ke kantin.
"Al, kamu masi gak ngerasa ya?" tanya Diana.
"ngerasa apa lagi, Na? makhluk halus?" godaku.
"kamu iih.. mentang-mentang sepi.!!"
"lalu apa?"
"si Riski.. sama kamu.. masi gak ngerasa?"
"apa lagi sie antara aku dan Riski. kita cuma teman, kamu tahu itu, bahkan kalian semua juga tahu."
"iya, Al, aku tahu.. tapi perhatian dia ke kamu itu yang gak ilang, bahkan disaat dia punya pacar. perhatian dia ke kamu lebih dari perhatian dia ke pacarnya."
"gak lah, Na, dia itu udah kayak kakak aku. lagian kita juga ada ikatan persaudaraan. kamu tau kan?"
"tapi kan saudara jauh, gak sedarah lagi."
"ya walaupun begitu, aku gak akan menerima dia kok kalo seandainya dia nembak aku kayak dulu lagi."
"kamu yakin, Al?"
"yakin. aku sekarang lagi ingin sendiri aja. yaah.. kamu tau kan gimana?"
"kak Andre?"
"begitulah."
"tapi kamu harus bangkit lagi ya, Al. aku mau kamu jadi Angela Lovely Putri Prasetya yang ceria, seperti saat pertama aku ketemu kamu disini."
"pasti, Na, aku mohon sama kamu.. kamu mau bantu aku untuk keluar dari hal ini."
"pasti, Al, aku kan sahabat kamu."
"makasih ya, Na."
kami berdua pun berpelukan dan aku merasa sangat bahagia, karena ternyata di sekitar aku ada banyak sahabat aku yang sangat menyayangi aku, tanpa memandang statusku dan juga bagaimana kehidupanku yang dulu. terima kasih Tuhan atas berkat yang Engkau berikan..

0 komentar:

Posting Komentar